Dikirim Oleh: Sekretaris Jenderal HKBP Pada Jumat, 05 Pebruari 2010
Informasi tentang kasus yang terjadi di Sekolah Bibelvrouw di Laguboti telah beredar. Banyak orang yang menanyakan bagaimana kejadian sebenarnya dan bagaiman HKBP mengatasinya? Simpang siurnya informasi serta saling silangnya pendapat bisa membuat kita sulit melihat jalan keluar yang harus di tempuh.
Laporan Direktur Sekolah Bibelvrouw HKBP Pdt. Manarias Sinaga, MTh tanggal 20 Januari 2010 ke Kantor Pusat serta lampiran surat permohonan para mahasiswa Bibelvrouw dan surat penjelasan dari 19 orang mahasiswa Sekolah Bibelvrouw tentang yang dialaminya dari Pdt. Siman Hutahaean, MTh merupakan titik awal Kantor Pusat HKBP mengetahui keadaan tersebut.
Sesuai dengan tuntutan pertama para mahasiswa Sekolah Bibelvrouw yang tidak menghendaki lagi Pdt. Siman Hutahaean, MTh tinggal dan mengajar di Sekolah Bibelvrouw dan diskusi dengan Direktur Sekolah Bibelvrouw, maka Pimpinan HKBP segera memenuhi permintaan tersebut dengan mengeluarkan surat kepada Pdt. Siman Hutahaean segera meninggalkan kompleks Sekolah Bibelvrouw dan tinggal di Jetun Silangit menunggu keputusan akhir.
Sesudah itu Ephorus HKBP mengangkat Tim Pencari Fakta untuk lebih mendalam meneliti laporan tersebut. Tim ini terdiri dari Pdt. Dr. Jamilin Sirait Kepala Departemen Koinonia HKBP sebagai Ketua, Pdt Parulian Sibarani, MTh Praeses HKBP Dist IV TOBA, Pdt Donald Sipahutar, STh Kepala Biro Personalia HKBP, Pdt Debora Sinaga, MTh Praeses HKBP Dist XVI Humbang Habinsaran dan Biv. Bungapola Simanjuntak. Tim bekerja selama 14 hari mulai dari tanggal 25 januari, saat ini tim masih melaksanakan tugasnya. Informasi dari Tim, mereka telah bertemu dengan Direktur Sekolah Bibelvrouw, para Dosen, para mahasiswa Sekolah Bibelvrouw. Keterangan dari Pdt. Siman Hutahaean tentang perbuatannya tersebut di perlukan ; Laporan Direktur Sekolah Bibelvrouw dan penjelasan dari 19 orang mahasiswa Sekolah Bibelvrouw menjadi modal utama melangkah mengambil keputusan sesuai dengan mekanisme yang berlaku di HKBP.
Demikian kami sampaikan untuk kita ketahui bersama. Mari kita berdoa agar kasus ini dapat segera dituntaskan. Kepada semua pihak diharap untuk membantu tim dapat melaksanakan tugas sebaikbaiknya dan seobjektif-objektifnya.
Rabu, 10 Februari 2010
Jumat, 05 Februari 2010
Manusia Yang Terbatas
Yohanes 3:31
Mengapa dalam peribadatan kita harus memuliakan Tuhan dan bukan memuliakan si pelayan (Pengkotbah)? Mengapa kita tidak boleh membanggakan diri dalam kesuksesan pelayanan kita? Jawabannya adalah karena kita manusia yang penuh dengan keterbatasan, manusia yang penuh kekurangan, manusia yang tidak sempurnah. Karena itu tidak ada alasan untuk kita membanggakan diri dalam pelayanan atau ingin di puji. Hanya Yesus yang patut di muliakan.
Nas ini mau memperlihatkan eksistensi Yesus dan eksistensi manusia, bahwa Yesus berasal dari Allah Bapa yang di sorga, Ia Maha Kuasa dan Maha Suci; sedangkan manusia berasal dari dunia yang diliputi oleh kelemahan-kelemahan karena dosa, sehingga setiap perkataan manusia yang berdosa. Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa Yesus lebih besar daripada semua manusia, karena itu Ia patut dipuji dan dimuliakan oleh manusia. Ia tidak boleh dibandingkan dengan manusia atau manusia tidak layak untuk menyamakan dirinya dengan Yesus karena manusia penuh dengan keterbatasan.
Walaupun kita penuh dengan keterbatasan, tetapi karena kasihNya yang besar Yesus tetap mau memakai kita untuk menjadi kawan sekerjaNya untuk mewujudnyatakan kasih Allah bagi dunia. Karena itu Ia pun berkata, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu untuk pergi dan menghasilkan buah..." (Yohanes 15:16). Agar dalam dunia kita bisa berbuah dalam arti berhasil dalam pelayanan, kita memerlukan pertolongan dari Yesus. Ia akan memperlengkapi kita dengan karunia-karunia atau kemampuan-kemampuan khusus dalam melayani. Karunia ini dimaksudkan agar semakin banyak orang datang memuliakan Yesus melalui pemberitaan kita. Karena itu bersyukurlah karena Yesus melayakkan kita untuk menjadi pelayanNya di tengah keterbatasan yang kita miliki.
Mengapa dalam peribadatan kita harus memuliakan Tuhan dan bukan memuliakan si pelayan (Pengkotbah)? Mengapa kita tidak boleh membanggakan diri dalam kesuksesan pelayanan kita? Jawabannya adalah karena kita manusia yang penuh dengan keterbatasan, manusia yang penuh kekurangan, manusia yang tidak sempurnah. Karena itu tidak ada alasan untuk kita membanggakan diri dalam pelayanan atau ingin di puji. Hanya Yesus yang patut di muliakan.
Nas ini mau memperlihatkan eksistensi Yesus dan eksistensi manusia, bahwa Yesus berasal dari Allah Bapa yang di sorga, Ia Maha Kuasa dan Maha Suci; sedangkan manusia berasal dari dunia yang diliputi oleh kelemahan-kelemahan karena dosa, sehingga setiap perkataan manusia yang berdosa. Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa Yesus lebih besar daripada semua manusia, karena itu Ia patut dipuji dan dimuliakan oleh manusia. Ia tidak boleh dibandingkan dengan manusia atau manusia tidak layak untuk menyamakan dirinya dengan Yesus karena manusia penuh dengan keterbatasan.
Walaupun kita penuh dengan keterbatasan, tetapi karena kasihNya yang besar Yesus tetap mau memakai kita untuk menjadi kawan sekerjaNya untuk mewujudnyatakan kasih Allah bagi dunia. Karena itu Ia pun berkata, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu untuk pergi dan menghasilkan buah..." (Yohanes 15:16). Agar dalam dunia kita bisa berbuah dalam arti berhasil dalam pelayanan, kita memerlukan pertolongan dari Yesus. Ia akan memperlengkapi kita dengan karunia-karunia atau kemampuan-kemampuan khusus dalam melayani. Karunia ini dimaksudkan agar semakin banyak orang datang memuliakan Yesus melalui pemberitaan kita. Karena itu bersyukurlah karena Yesus melayakkan kita untuk menjadi pelayanNya di tengah keterbatasan yang kita miliki.
Kamis, 04 Februari 2010
Renungan
"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu"
(Matius 20:26)
Apa yang akan Yesus minta dari orang yang percaya kepadaNya dan yang mau mengikut Dia adalah hati yang mau melayani, hati seorang hamba yang mau merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani orang lain, bahkan yang paling hina sekalipun. Mari kita lihat Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu adalah demi memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini permintaan wajar dari seorang ibu yang sayang anak-anaknya. "Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21). Yesus lalu menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? (ay22a).
Yesus berbicara mengenai kesanggupan mereka untuk mengikuti Kristus dan untuk memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Yohanes dan Yakobus pun menjawab bahwa mereka sanggup. Lalu Yesus menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Tapi jika ingin menjadi besar dan terkemuka, Yesus memberikan petunjuk penting. Yesus berkata, ketika pemerintah-pemerintah yang tidak mengenal Allah akan memerintah dengan tangan besi, menekan rakyatnya dengan keras karena mereka berkuasa, sebagai pengikut-pengikut Kristus tidaklah boleh demikian. "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).
Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is down. Ini prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba. Maka saya senang menggambarkan diri kita sebagai anak Raja berhati hamba.
Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.
Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan. It's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Hanya orang dengan sikap seperti inilah yang akan mampu memuaskan Tuhan, Raja diatas segala raja. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?
Pelayan yang baik akan mementingkan kehendak tuannya bukan dirinya sendiri.
(Matius 20:26)
Apa yang akan Yesus minta dari orang yang percaya kepadaNya dan yang mau mengikut Dia adalah hati yang mau melayani, hati seorang hamba yang mau merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani orang lain, bahkan yang paling hina sekalipun. Mari kita lihat Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu adalah demi memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini permintaan wajar dari seorang ibu yang sayang anak-anaknya. "Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." (Matius 20:21). Yesus lalu menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? (ay22a).
Yesus berbicara mengenai kesanggupan mereka untuk mengikuti Kristus dan untuk memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Yohanes dan Yakobus pun menjawab bahwa mereka sanggup. Lalu Yesus menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Tapi jika ingin menjadi besar dan terkemuka, Yesus memberikan petunjuk penting. Yesus berkata, ketika pemerintah-pemerintah yang tidak mengenal Allah akan memerintah dengan tangan besi, menekan rakyatnya dengan keras karena mereka berkuasa, sebagai pengikut-pengikut Kristus tidaklah boleh demikian. "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu" (ay 26-27). Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28).
Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya" (1 Petrus 5:6). The only way up is down. Ini prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba. Maka saya senang menggambarkan diri kita sebagai anak Raja berhati hamba.
Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.
Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan. It's not about how high we rise, but it's about how low we go down. Hanya orang dengan sikap seperti inilah yang akan mampu memuaskan Tuhan, Raja diatas segala raja. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?
Pelayan yang baik akan mementingkan kehendak tuannya bukan dirinya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)