Hidup sebagai pemuda memang banyak tantangannya. Pemuda harus bergumul menentukan karier dan pasangan hidupnya. Ini merupakan bagian yang cukup sulit yang harus dihadapi oleh pemuda. Apa yang terjadi di masa pemuda sebetulnya sudah mulai terjadi di masa remaja, dan di masa remajalah gereja meletakkan fundasinya. Pada masa remaja itulah seseorang berkesempatan untuk membangun jati dirinya. Kalau dia berhasil menemukan dan membangun jati dirinya, dia menjadi seseorang yang mantap. Dia tahu kekurangannya,kelebihannya, kebisaannya, keterbatasannya, dan dia bisa merangkul semuanya itu dengan luwes. Kalau dia bisa menemukan ini semua, dia akan memasuki usia dewasa dan membangun keintiman. Sebaliknya, kalau dia tidak menemukan jati dirinya dan dia bingung terus dengan siapa dirinya waktu memasuki usia dewasa, bukannya keintiman yang dia bangun tetapi dia malah menarik diri, mengisolasi diri dari orang-orang yang sebetulnya mau dekat dengan dia karena tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup.
Watak para pemuda cenderung “progresif, idealis, visioner, romatis, radikalis, produktif.” Itu semua merupakan potensi dan keunggulan kulturalnya yang sudah seharusnya difasilitasi dan diakomodir secara visible untuk menopang kebutuhan pembangunan gereja ke depan. Keunggulan kaum pemuda ini semestinya mendapat perhatian gereja, sehingga akan menjadi potensi produktif, namun sebaliknya jika tidak terartikulasi secara baik, bisa menjadi potensi destruktif bagi gereja.
Misi Gereja terhadap Pelayanan Pemuda perlu mendapat perhatian yang serius. Sedikitnya tiga hal di bawah ini merupakan perhatian khusus bagi kita sekarang dalam pelayanan, yaitu:
a. Membentuk pemuda dewasa yang memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan dan sesama.
b. Memperlengkapi pemuda dewasa menjadi pemuda Kristen yang mandiri dalam menghadapi tantangan jaman.
c. Mendukung pelayanan gereja dengan melibatkan pemuda sebagai kesatuan tubuh Kristus.
Gereja sungguh-sungguh mempunyai peranan besar dalam menumbuhkembangkan mental dan spiritual para pemuda. Pada usia yang tergolong muda, sepertinya para pemuda tidak mau hidup dalam berbagai keterikatan-keterikat yang dianggap memenjarakannya. Hidup ingin bebas merupakan fase yang kuat dalam pertumbuhan hidup para pemuda. Pengendalian terhadap kebebasan yang tidak terpimpin itulah yang perlu diarahkan oleh gereja. Pelayanan gereja terhadap pemuda harus diisi dengan melatih mereka bagaimana memimpin dan mengendalikan diri. Menyarankan bahwa masa muda adalah masa yang sangat menentukan dalam perjalanannya ke depan. Masa muda adalah masa yang indah yang tidak mungkin datang untuk terulang.
Program-program pelayan yang terpadu harus dipikirkan oleh gereja sehingga para pemuda gereja tertanam dalam hati dan pikirannya at home hidup dalam nilai-nilai kristiani. Gereja perlu mengorganisir kepemudaan dalam rangkaian menanamkan nilai-nilai luhur kegerejaan dan arti hidupnya di masa depannya. Persekutuan pemuda dalam gereja tidak lagi sebatas mereka berkumpul belajar nyanyian koor dan dengar-dengaran dengan Firman Allah melalui PA, akan tetapi kita sudah harus sampai kepada pelayanan bagaimana mempersiapkan mereka menghadapi berbagai tantangan yang terjadi dan bakalan terjadi kelak. Gereja harus memungkinkan pelayanan pelatihan-pelatihan keahlian kepada pemuda yang sudah putus sekolah.
Senin, 29 Maret 2010
Jumat, 26 Maret 2010
Kasih itu Sabar
Banyak terjemahan modern menyertakan ayat ini, "Kasih itu sabar ...." Secara teknis, hal itu benar. Sayangnya, banyak orang modern tidak memiliki pandangan yang sama tentang kesabaran seperti orang-orang zaman dulu. Kita mengartikan sabar itu seperti mengantri selama lima menit tanpa meneriaki orang lain. Namun, tidak demikian dengan makna kata sabar dalam bahasa Yunani. Sabar bukan berarti kemampuan untuk menunggu sesuatu terjadi. Kata sabar dalam bahasa Yunani adalah "makrothumia" yang secara harafiah berarti `panjang/lama` (makro), dan `menderita` (thumia).
Jadi, kesabaran berarti memikul penderitaan dalam jangka waktu yang lama dan bertahan menghadapi kelakuan orang lain yang mungkin bertentangan dengan kita.
Jika kita ingin mengasihi dengan kasih Tuhan, kita harus memulainya dengan kesabaran. Ada dua bagian dalam kesabaran tersebut. Bersabar terhadap penderitaan yang disebabkan oleh orang lain dan bersabar dalam menanggung penderitaan bersama orang lain.
Banyak orang, termasuk orang Kristen, sepertinya bangga jika mereka mudah marah. Terdapat beberapa kalimat dalam masyarakat seperti, "Aku tidak mau dikritik", "Hei, seseorang mengkritikku, tapi itu semua hanyalah masa lalu", "Aku tidak marah, aku akan membalasnya". Bahkan banyak orang Kristen tertawa dan berkata, "Aku rasa aku berhasil melukainya."
Semua itu bukanlah sifat Guru kita yang dikenal sebagai Penebus dosa. Dia sabar saat dikritik, dihina, dipukul, dicambuk, disalib, bahkan di masa-masa terakhirnya pun masih berkata, "Bapa ampuni mereka." Itu adalah penderitaan yang panjang. "Tentu saja," kata Anda, "Karena Dia Yesus, Anak Allah." Jika kita adalah orang Kristen, kita seharusnya menjadi anak-anak Allah. Tapi mari kita lewatkan hal itu dulu. Mari kita lihat Stefanus yang meminta Allah mengampuni orang-orang yang melemparinya dengan batu. Lihat juga Paulus, dia dipukuli, dilempari batu, dicambuk seperti Yesus, dan dijebloskan ke penjara. Di penjara, dia menulis kata-kata yang sedang kita pelajari ini. Apakah Tuhan mengindahkan seseorang? Jika Dia mampu memberi Stefanus dan Paulus kasih yang cukup untuk memikul hinaan, siksa, dan kematian, tidak bisakah Dia membantu kita mengasihi rekan kerja yang mencoba menjelek-jelekkan kita di depan atasan?
Tapi ada makna lain di balik penderitaan panjang yang baru saja saya pelajari dari Tuhan. Kita tidak hanya bersabar terhadap derita yang diakibatkan oleh orang lain, tapi kasih juga memanggil kita untuk menderita bersama orang lain. Pikirkan keluarga Anda. Saat anak atau pasangan, saudara, ayah atau ibu Anda sedang sakit atau dalam kesulitan, apakah Anda tidak merasakan penderitaan yang mereka alami itu seolah-olah adalah penderitaan Anda sendiri? Jadi, kita harus ikut merasakan penderitaan keluarga gereja dan orang-orang yang dekat dengan kita. Seberapa sering kita mendengar rekan kerja atau teman gereja berkata seperti, "Saya ada janji bertemu dokter besok dan saya sangat khawatir." Apakah kita menanggapinya dengan berkata, "Sayang sekali. Aku akan mendoakanmu"? Apa kita benar-benar berdoa? Saat kita berdoa, apakah kita merasakan sesuatu? Apakah kita menawarkan bantuan seperti mengantar ke dokter, berbelanja, atau membawakan makanan? Kita memiliki banyak alasan untuk tidak melakukan semua itu. "Aku benar-benar tidak mempunyai waktu. Aku harus bekerja, mengurus keluarga ...." Tapi apakah kita punya waktu untuk menonton acara favorit kita di TV? Apakah kita mempunyai cukup waktu untuk komunitas, olahraga, atau hobi kita? Semuanya itu baik, tapi jika kita mempunyai waktu untuk semua itu, mengapa kita tidak mempunyai waktu bagi orang yang membutuhkan? Mengapa? Itu karena kita tidak merasakan penderitaan mereka.
Kasih itu adalah perbuatan. Perbuatan itu bisa dalam bentuk penderitaan panjang, memaafkan, dan memberikan bantuan. Jika semua itu belum dilakukan, kita harus terus berjuang mendapatkan kesabaran sejati.
Jadi, kesabaran berarti memikul penderitaan dalam jangka waktu yang lama dan bertahan menghadapi kelakuan orang lain yang mungkin bertentangan dengan kita.
Jika kita ingin mengasihi dengan kasih Tuhan, kita harus memulainya dengan kesabaran. Ada dua bagian dalam kesabaran tersebut. Bersabar terhadap penderitaan yang disebabkan oleh orang lain dan bersabar dalam menanggung penderitaan bersama orang lain.
Banyak orang, termasuk orang Kristen, sepertinya bangga jika mereka mudah marah. Terdapat beberapa kalimat dalam masyarakat seperti, "Aku tidak mau dikritik", "Hei, seseorang mengkritikku, tapi itu semua hanyalah masa lalu", "Aku tidak marah, aku akan membalasnya". Bahkan banyak orang Kristen tertawa dan berkata, "Aku rasa aku berhasil melukainya."
Semua itu bukanlah sifat Guru kita yang dikenal sebagai Penebus dosa. Dia sabar saat dikritik, dihina, dipukul, dicambuk, disalib, bahkan di masa-masa terakhirnya pun masih berkata, "Bapa ampuni mereka." Itu adalah penderitaan yang panjang. "Tentu saja," kata Anda, "Karena Dia Yesus, Anak Allah." Jika kita adalah orang Kristen, kita seharusnya menjadi anak-anak Allah. Tapi mari kita lewatkan hal itu dulu. Mari kita lihat Stefanus yang meminta Allah mengampuni orang-orang yang melemparinya dengan batu. Lihat juga Paulus, dia dipukuli, dilempari batu, dicambuk seperti Yesus, dan dijebloskan ke penjara. Di penjara, dia menulis kata-kata yang sedang kita pelajari ini. Apakah Tuhan mengindahkan seseorang? Jika Dia mampu memberi Stefanus dan Paulus kasih yang cukup untuk memikul hinaan, siksa, dan kematian, tidak bisakah Dia membantu kita mengasihi rekan kerja yang mencoba menjelek-jelekkan kita di depan atasan?
Tapi ada makna lain di balik penderitaan panjang yang baru saja saya pelajari dari Tuhan. Kita tidak hanya bersabar terhadap derita yang diakibatkan oleh orang lain, tapi kasih juga memanggil kita untuk menderita bersama orang lain. Pikirkan keluarga Anda. Saat anak atau pasangan, saudara, ayah atau ibu Anda sedang sakit atau dalam kesulitan, apakah Anda tidak merasakan penderitaan yang mereka alami itu seolah-olah adalah penderitaan Anda sendiri? Jadi, kita harus ikut merasakan penderitaan keluarga gereja dan orang-orang yang dekat dengan kita. Seberapa sering kita mendengar rekan kerja atau teman gereja berkata seperti, "Saya ada janji bertemu dokter besok dan saya sangat khawatir." Apakah kita menanggapinya dengan berkata, "Sayang sekali. Aku akan mendoakanmu"? Apa kita benar-benar berdoa? Saat kita berdoa, apakah kita merasakan sesuatu? Apakah kita menawarkan bantuan seperti mengantar ke dokter, berbelanja, atau membawakan makanan? Kita memiliki banyak alasan untuk tidak melakukan semua itu. "Aku benar-benar tidak mempunyai waktu. Aku harus bekerja, mengurus keluarga ...." Tapi apakah kita punya waktu untuk menonton acara favorit kita di TV? Apakah kita mempunyai cukup waktu untuk komunitas, olahraga, atau hobi kita? Semuanya itu baik, tapi jika kita mempunyai waktu untuk semua itu, mengapa kita tidak mempunyai waktu bagi orang yang membutuhkan? Mengapa? Itu karena kita tidak merasakan penderitaan mereka.
Kasih itu adalah perbuatan. Perbuatan itu bisa dalam bentuk penderitaan panjang, memaafkan, dan memberikan bantuan. Jika semua itu belum dilakukan, kita harus terus berjuang mendapatkan kesabaran sejati.
Kamis, 25 Maret 2010
TEHNIK MENULIS ARTIKEL
Penulis yang baik adalah pembaca yang baik.
Memilih topik
Memilih topik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, bagi penulis pemula memilih topik sama beratnya dengan membuat judul atau isi tulisan. Misalnya, judul berita yang Anda ambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah baca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, Anda bisa bikin ulang dengan pengembangan yang Anda suka, dengan cara Anda sendiri. Anggap saja misalnya Anda sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Anda bisa ubah dengan versi baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja. Sebagai latihan aja kan? Mungkin kok. Coba deh!
Memilih topik:
1) Cari yang sedang menjadi tren.
2) Atau bisa juga kita menciptakan tren.
3) Pilih yang dekat dengan kebanyakan sasaran pembaca kita.
4) Hindari topik yang tidak kita kuasai atau menimbulkan polemik yang tak perlu.
5) Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.
Membuat kerangka tulisan (Out line)
1) Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang harus kita tulis. 2) Supaya tulisan tak melebar kemana-mana. 3) Dengan membuat kerangka tulisan, kita akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan kita juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang pas untuk alur tulisan kita.
Beberapa panduan untuk membuat kerangka tulisan:
1) Paparkan fakta-fakta seputar tema yang akan kita bahas.
2) Lakukan penilaian atas fakta-fakta itu. Sudut pandang rasional dan syariat.
3) Kumpulkan bahan-bahan pendukung argumentasi kita.
4) Kesimpulan.
Menabung kosa kata
1) Adalah sangat baik bila penulis menabung kosa kata sedikitnya 5 kata/hari. 2) Kosa kata sangat berguna sebagai dempul tulisan. 3) Tujuannya adalah untuk memoles tulisan supaya rata dan licin. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampe yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua udah lengkap. Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enakdipandang mata. Mengasyikan tentunya.
Judul
1) Buatlah judul yang menarik 2) Membuat judul merupakan pekerjaan “keterampilan khusus” harus pintar mengolah kata.3) Membaca majalah yang oke/menarik mengolah judul seperti: TEMPO, GATRA, GAMMA. 4) Buatlah judul yang pendek (2 sampai 4 kata)
1) Pastikan membuat subjudul karena sangat penting 2) Subjudul menolong penulis untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. 3) Tujuannya membantu pembaca memahami sehingga pembaca terus tertarik membaca tulisan kita.
Memilih topik
Memilih topik sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Hanya saja, bagi penulis pemula memilih topik sama beratnya dengan membuat judul atau isi tulisan. Misalnya, judul berita yang Anda ambil adalah perilaku seks bebas remaja. Setelah baca berita itu, dari mulai fakta dan arahnya ke mana, Anda bisa bikin ulang dengan pengembangan yang Anda suka, dengan cara Anda sendiri. Anggap saja misalnya Anda sebagai wartawan yang menyelidiki kasus itu. Anda bisa ubah dengan versi baru tentang penyelidikan kasus seks bebas di kalangan remaja. Sebagai latihan aja kan? Mungkin kok. Coba deh!
Memilih topik:
1) Cari yang sedang menjadi tren.
2) Atau bisa juga kita menciptakan tren.
3) Pilih yang dekat dengan kebanyakan sasaran pembaca kita.
4) Hindari topik yang tidak kita kuasai atau menimbulkan polemik yang tak perlu.
5) Biasakan berlatih mengikuti peristiwa yang berkembang untuk bahan tulisan.
Membuat kerangka tulisan (Out line)
1) Alasannya, kerangka tulisan berguna untuk membatasi apa yang harus kita tulis. 2) Supaya tulisan tak melebar kemana-mana. 3) Dengan membuat kerangka tulisan, kita akan mudah untuk menentukan maksud dan arah tulisan. Bahkan kita juga bisa berhemat dengan kata-kata, termasuk pandai memilih kosa kata yang pas untuk alur tulisan kita.
Beberapa panduan untuk membuat kerangka tulisan:
1) Paparkan fakta-fakta seputar tema yang akan kita bahas.
2) Lakukan penilaian atas fakta-fakta itu. Sudut pandang rasional dan syariat.
3) Kumpulkan bahan-bahan pendukung argumentasi kita.
4) Kesimpulan.
Menabung kosa kata
1) Adalah sangat baik bila penulis menabung kosa kata sedikitnya 5 kata/hari. 2) Kosa kata sangat berguna sebagai dempul tulisan. 3) Tujuannya adalah untuk memoles tulisan supaya rata dan licin. Ibarat kita mau membangun rumah, batu-bata sudah siap, semen dan pasir udah banyak, batu untuk pondasi udah menumpuk. Begitupun dengan kayu, bambu, cat, keramik dan genteng, sampe yang pernik-pernik seperti paku dan instalasi listrik semua udah lengkap. Perlu keahlian khusus tentunya untuk merangkai semua itu jadi sebuah rumah. Menata batu untuk pondasi, memasang batu-bata dan merekatkannya dengan campuran semen, kapur, dan pasir. Memasang kayu-kayu untuk jendela dan pintu. Tembok yang sudah jadi, perlu dilapisi dempul sebelum akhirnya dicat dengan warna kesukaan kita. Menyusun genteng untuk menutupi atap rumah kita. Sampe rumah itu jadi dan enakdipandang mata. Mengasyikan tentunya.
Judul
1) Buatlah judul yang menarik 2) Membuat judul merupakan pekerjaan “keterampilan khusus” harus pintar mengolah kata.3) Membaca majalah yang oke/menarik mengolah judul seperti: TEMPO, GATRA, GAMMA. 4) Buatlah judul yang pendek (2 sampai 4 kata)
1) Pastikan membuat subjudul karena sangat penting 2) Subjudul menolong penulis untuk menggolongkan dan membatasi pembahasan dalam sebuah tulisan jenis artikel dan berita. 3) Tujuannya membantu pembaca memahami sehingga pembaca terus tertarik membaca tulisan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)