Senin, 08 Maret 2010

Kecenderungan


Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman
(Amsal 15:1)

Seorang peneliti melakukan sebuah percobaan. Tujuan percobaan itu adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh nada suara terhadap seseorang ketika mereka diberi perintah. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa cara seseorang ditegur sangat menentukan tanggapan yang akan diberikannya.

Sebagai contoh, jika seseorang ditegur dengan suara yang lembut, ia akan menjawab dengan cara serupa. Namun ketika ia diteriaki, orang itu akan menjawab dengan nada yang sama tajamnya. Hal ini juga berlaku pada komunikasi yang dilakukan secara langsung, melalui interkom, atau melalui telepon.

Penelitian ini mengingatkan saya pada Amsal 15:1 yang menyatakan, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." Perkataan kita dan cara pengungkapannya tidak hanya membuat perbedaan terhadap reaksi yang akan kita terima, tetapi juga menentukan apakah perkataan tersebut akan menghasilkan kedamaian atau justru mendatangkan konflik. Dengan mempraktikkan kebenaran dari ayat di atas, maka kita dapat menghindari perselisihan pendapat dan mendinginkan situasi yang tegang.

Di waktu yang akan datang, jika seseorang berbicara kepada Anda dengan nada marah atau kasar, baliklah kecenderungan itu dengan cara mengungkapkan kelembutan, ketenangan jiwa, dan perhatian yang penuh kasih. Dan lihatlah, bagaimana jawaban yang lembut dapat membuat perbedaan dalam hubungan kita!

Jumat, 05 Maret 2010

Seng Gereja HKBP Unte Mungkur Diterbangkan Angin Puting Beliung

Selasa (23/02/2010) sekitar pukul 17.00 WIB, angin puting beliung merusak seng gereja HKBP Ressort Unte Mungkur Distrik XVI Humbang Habincaran. Ini kejadian pertama yang pernah terjadi di daerah Kecamatan Muara. Tidak hanya seng gereja, angin puting beliung juga merusak rumah seorang warga masyarakat (jemaat HKBP Unte Mungkut), Ibu Sihombing dan mengenai kepala. Saat ini mendapat perawatan di Rumah Sakit yang ada di Medan.
Akibat angin puting beliung yang merusak seng gereja, plapon gereja ikut juga rusak akibat terkena hujan yang deras. Ditafsirkan perbaikan kerusakan akibat bencana tersebut sebesar delapan puluh juta rupiah. Untuk menghindari kerusakan yang lain serta agar berjalannya acara-acara gereja setiap minggunya diadakan perbaikan seng. Puji Tuhan ada donator di medan yang member perhatiannya dengan menyumbangkan seng. Sesuai dengan program HKBP Ressort Unte Mungkur yang berjumlah 167 KK, bulan Maret akan diadakan Pesta Gotilon untuk memperbaiki gedung gereja yang rusak. Mari kita mendukung dan mendoakan agar perbaikan gedung gereja HKBP Unte Mungkur dapat dengan segera selesai.

Rabu, 03 Maret 2010

Hanura Akan Selidiki Matinya Mikrofon DPR

detikcom - Rabu, 3 Maret

Matinya mikrofon di ruang sidang paripurna tentang kesimpulan Pansus Century disinyalir menjadi penyulut emosi para anggota dewan yang berujung dengan kekacauan. Hanura menduga mikrofon sengaja dimatikan dan akan diusut tuntas.

"Kami belum bisa memastikan (sabotase). Kami akan mempelajari dengan seksama. Tapi yang jelas ini adalah kejahatan demokrasi karena memasung hak berpendapat," kata anggota Pansus dari Fraksi Partai Hanura Akbar Faisal dalam jumpa pers di Press Room DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/3/2010).

Akbar menjawab pertanyaan apakah ada sabotase untuk mematikan semua mikrofon ketika sidang mulai ricuh. Yang jelas menurut Akbar, matinya mikrofon membuat banyak anggota DPR merangsek maju ke meja pimpinan DPR.

"Kenapa tadi saya naik ke mimbar, itu karena semua mikrofon mati. Yang hidup hanya mikrofon di meja pimpinan dan wakilnya, serta di podium," kata Akbar.

Akbar mengatakan dirinya naik ke podium untuk memprotes sikap Ketua DPR Marzuki Alie yang menutup sidang sepihak dengan alasan mematuhi Badan Musyawarah (Bamus) DPR. Padahal keputusan tertinggi ada di sidang paripurna.

"Tadi saya mau protes itu. Dasar saya pasal 221 Tatib di mana pengambilan keputusan itu ada di paripurna, bukan di Bamus," cetusnya.

Akbar mengatakan sepakat dengan pendapat anggota Pansus Bambang Soesatyo yang menyatakan tidak perlu ada lagi pembacaan sikap fraksi dalam sidang paripurna. "Jika bisa dilaksanakan satu hari, kenapa paripurna ini harus berjalan dua hari?" pungkas Akbar.