BERJABAT TANGAN UNTUK BERSAHABAT
Berjabat tangan telah menjadi suatu bagian dari kehidupan sehari - hari. Sikap dalam berjabat tangan menampilkan sebagian besar kesannya terhadap anda. Entah itu bersilaturahmi, bersahabat, atau cuma bersalam-salaman saja.
Pernahkah anda ingat bagaimana kesalnya anda bila berjabat tangan dengan orang yang memberikan jabat tangan yang lemah-lunglai atau sebaliknya terlalu keras bersemangat seperti tenaga mau pancho.
Jangan sampai saat berjabat tangan anda dikategorikan sebagai orang yang tidak memberi kesan baik padahal maksud berjabat tangan tidak jauh untuk bersahabat. Berikut ini ada beberapa tehnik dan tips saat berjabat tangan yang efektif:
1. Tataplah mata lawan bicara anda saat berjabat tangan dengannya. Tidak ada yang lebih mengacuhkan selain jabatan tangan tanpa tatapan mata. Ini menunjukkan rasa tidak hormat atau tidak tertarik. Dengan menatap lawan bicara saat berjabatan, anda menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan diri. Menatap disini tentu dengan tatapan yang sopan, jangan tatapan yang kurang ajar.
2. Berjabat-tanganlah dari telapak ke telapak. Jangan berjabat tangan dengan mempertemukan dari jari ke jari, atau telapak dengan jari. Dengan berjabat tangan dari telapak ke telapak akan memberikan perasaan bersahabat dan tidak meninggalkan perasaan yang tidak nyaman atau terluka.
3. Jangan terlalu akrab, atau tepatnya "sok akrab". Beberapa orang bertindak berlebihan dengan menarik tangan lawan dan secara keras mengayunkan ke atas ke bawah. Jabat tangan semacam ini sama dengan "mulut besar". Bersikaplah percaya diri, jangan membuat orang lain kesal.
4. Sadarlah akan keterbatasan fisik seseorang. Orang jompo,cacat, atau penderita arthitis mungkin memiliki tulang yang lemah dan keterbatasan gerak. Melukai sesorang saat berjabatan tangan mungkin justru menutup pintu bukannya membuka pintu hubungan yang baik.
5. Ingatlah untuk menciptakan jabat tangan yang bermakna. Jika anda berjabat tangan lalu dengan segera menarik tangan anda dan melanjutkan pembicaraan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, maka orang akan menganggapnya sebagai jabat tangan yang tak berarti dan tidak tulus. Berikan pada lawan anda beberapa saat untuk menunjukkan perhatian anda melalui kontak mata atau pembicaraan sebelum anda menarik tangan anda. Mereka akan merasa bahwa mereka sedang bertemu dengan orang yang layak.
Semoga tips diatas dapat merubah gaya anda dalam berjabat tangan.
Selasa, 29 September 2009
Rabu, 23 September 2009
Refleksi
KASIH: WUJUD JATI DIRI ORANG KRISTEN
Bagi orang Kristen, seruan hidup dalam kasih mungkin sudah menjadi sangat klise. Kekristenan sangat identik dengan kasih. Bagi kita Allah adalah Kasih. Akan tetapi, belakangan ini beberapa peristiwa yang terjadi dalam karya kita, membuat saya banyak berpikir tentang hal “hidup dalam kasih” ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang persoalan ini tiba-tiba kembali datang dan mengurung saya dalam pemikiran-pemikiran yang menggelisahkan. Mengapa saya harus hidup dalam kasih? Ini pertanyaan yang pertama datang kepada saya. Belum selesai merenungkan hal ini, pertanyaan lain sudah datang, hidup dalam kasih yang seperti apa yang harus saya jalani? Teladan kasih seperti apa yang harus saya ikuti? Sampai sejauh mana saya harus mengasihi? Demikianlah, pertanyaan-pertanyaan tersebut menghantui ruang pemikiran saya hari-hari ini.Yohanes 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. 15:17 “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”.
Jawaban yang pertama kali datang kepada saya adalah firman Yesus ini. Mengasihi bukanlah sebuah pilihan atau anjuran, bagi seorang murid Kristus. Itu adalah perintah yang diberikan oleh Kristus sendiri. Di akhir masa hidupnya di bumi, Yesus Kristus memberikan perintah ini secara eksplisit kepada para murid-Nya, dan perintah ini diteruskan sampai kepada kita hari ini.
Teladan kasih yang diberikan kepada kita juga sudah sangat jelas. Yesus mengatakan bahwa kita harus saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita. Bagaimana Dia mengasihi kita? Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dia mengasihi kita sampai akhir, yaitu sampai merelakan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib demi kita yang dikasihi-Nya. Seperti itulah kita diperintahkan untuk mengasihi. Sampai sejauh itulah, kita harus mengasihi.
Akan tetapi, kekerasan hati saya membuat saya terus bertanya, tapi kenapa Tuhan? Kenapa Yesus memberikan perintah ini? Kenapa Dia bahkan merangkum semua hukum Allah di dalam dua hal ini: 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mark 12:30-31)
Ya, kenapa mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus? Kenapa tidak cukup dengan melakukan ritual-ritual, peraturan-peraturan, dan menaati larangan-larangan Tuhan saja? Kenapa tidak cukup dengan memberikan persembahan-persembahan saja? Kenapa, dan kenapa?
Tidakkah Tuhan tahu bahwa hal mengasihi itu adalah yang tersulit untuk dilakukan, karena manusia pada dasarnya adalah egois dan narsistis? Bukankah Tuhan tahu, bahwa tidak semua orang yang dikasihi akan meresponinya dengan syukur dan sembah, bahkan ada lebih banyak yang setelah dikasihi malah memalingkan wajah dan bahkan meludahi? Bukankah Tuhan tahu, manusia yang lemah dan tidak sempurna ini, lebih mudah membenci dan mencari kesalahan, daripada mengasihi dan memberikan dirinya sebagai korban demi kasih? Kenapa?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bagi beberapa orang adalah pertanyaan seorang anak kecil. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sungguh-sungguh menggelisahkan saya. Tuhan memerintahkan saya untuk mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus telah mengasihi, tetapi kenapa? Dalam kegelisahan saya, saya menemukan surat Yohanes ini.
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. (1 Yohanes 4:7-12)
Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita, dan telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Ayat ini berbunyi begitu nyaring di dalam hati saya. Kemudian saya jadi teringat ayat hafalan wajib bagi anak sekolah minggu di zaman saya, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)
Saya harus mengasihi, bukan karena semua orang pantas dikasihi oleh saya. Saya harus mengasihi bukan karena semua orang akan menerima dan bersyukur terhadap kasih yang akan saya berikan. Saya harus mengasihi bukan karena saya akan mendapat pujian dan kemuliaan karena kasih yang saya berikan. Saya harus mengasihi semata-mata karena saya sendiri sebenarnya tidak pantas untuk dikasihi, namun telah dikasihi lebih dulu oleh Allah, dengan kasih yang melampaui segala akal manusia untuk memahaminya, kasih yang memberikan anak tunggal Allah untuk mati di kayu salib demi saya. Itulah alasan pertama, dan terutama kenapa saya diperintahkan untuk mengasihi.
Mendapat jawaban ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Siapa saya, sehingga saya pantas mempertanyakan perintah agung Tuhan kepada saya? Betapa lancang dan kurang ajarnya saya, mempertanyakan perintah Tuhan ini. Saya, yang tidak pantas dikasihi ini, telah dikasihi sedemikian rupa oleh Tuhan. Apalagi yang bisa saya lakukan, selain menuruti perintah-Nya?
Anda mungkin tidak sedang bergumul seperti saya. Akan tetapi, jika pertanyaan-pertanyaan seperti tadi datang kepada Anda, ingatlah bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, jauh sebelum kita mengasihi Dia. Allah telah lebih dahulu memberikan Kristus untuk terpaku di kayu salib, jauh sebelum kita bahkan teringat kepada-Nya. Jangan lupakan hal ini juga, oleh karena dosa-dosa kita, kita paling pantas memperoleh hukuman kebinasaan kekal, namun Allah mengasihi kita lebih dulu.
Mari kita hidup dalam kasih. Kasih yang mengasihi tanpa menuntut syarat terlebih dahulu. Kasih yang juga tidak mengharapkan balas dan imbalan dari mereka yang kita kasihi. Kasih yang tidak menunggu untuk mengasihi, tetapi yang aktif mendahului untuk mengasihi. Bukan karena alasan apa-apa, hanya karena kita juga tidak pantas dikasihi, namun telah dikasihi sedemikian rupa oleh Allah yang maha kuasa.
Marilah kita hidup dalam kasih yang seperti ini, supaya dunia melihat Allah yang telah mengasihi dunia dan yang telah datang dan mati di kayu salib bagi dunia. Jangan heran dan terkejut dengan respon yang diberikan, tetapi tetaplah mengasihi. Bahkan ketika yang kita kasihi memalingkan wajahnya dari kita, meludahi bahkan melempari kita dengan batu. Mari tetap hidup dalam kasih. Mengasihi adalah jalan yang ditentukan Allah bagi kita. Tidak ada jalan lain, karena Allah sendiri telah datang kepada kita, hanya melalui jalan itu. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Bagi orang Kristen, seruan hidup dalam kasih mungkin sudah menjadi sangat klise. Kekristenan sangat identik dengan kasih. Bagi kita Allah adalah Kasih. Akan tetapi, belakangan ini beberapa peristiwa yang terjadi dalam karya kita, membuat saya banyak berpikir tentang hal “hidup dalam kasih” ini. Pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang persoalan ini tiba-tiba kembali datang dan mengurung saya dalam pemikiran-pemikiran yang menggelisahkan. Mengapa saya harus hidup dalam kasih? Ini pertanyaan yang pertama datang kepada saya. Belum selesai merenungkan hal ini, pertanyaan lain sudah datang, hidup dalam kasih yang seperti apa yang harus saya jalani? Teladan kasih seperti apa yang harus saya ikuti? Sampai sejauh mana saya harus mengasihi? Demikianlah, pertanyaan-pertanyaan tersebut menghantui ruang pemikiran saya hari-hari ini.Yohanes 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. 15:17 “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”.
Jawaban yang pertama kali datang kepada saya adalah firman Yesus ini. Mengasihi bukanlah sebuah pilihan atau anjuran, bagi seorang murid Kristus. Itu adalah perintah yang diberikan oleh Kristus sendiri. Di akhir masa hidupnya di bumi, Yesus Kristus memberikan perintah ini secara eksplisit kepada para murid-Nya, dan perintah ini diteruskan sampai kepada kita hari ini.
Teladan kasih yang diberikan kepada kita juga sudah sangat jelas. Yesus mengatakan bahwa kita harus saling mengasihi seperti Dia mengasihi kita. Bagaimana Dia mengasihi kita? Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dia mengasihi kita sampai akhir, yaitu sampai merelakan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib demi kita yang dikasihi-Nya. Seperti itulah kita diperintahkan untuk mengasihi. Sampai sejauh itulah, kita harus mengasihi.
Akan tetapi, kekerasan hati saya membuat saya terus bertanya, tapi kenapa Tuhan? Kenapa Yesus memberikan perintah ini? Kenapa Dia bahkan merangkum semua hukum Allah di dalam dua hal ini: 30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Mark 12:30-31)
Ya, kenapa mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus? Kenapa tidak cukup dengan melakukan ritual-ritual, peraturan-peraturan, dan menaati larangan-larangan Tuhan saja? Kenapa tidak cukup dengan memberikan persembahan-persembahan saja? Kenapa, dan kenapa?
Tidakkah Tuhan tahu bahwa hal mengasihi itu adalah yang tersulit untuk dilakukan, karena manusia pada dasarnya adalah egois dan narsistis? Bukankah Tuhan tahu, bahwa tidak semua orang yang dikasihi akan meresponinya dengan syukur dan sembah, bahkan ada lebih banyak yang setelah dikasihi malah memalingkan wajah dan bahkan meludahi? Bukankah Tuhan tahu, manusia yang lemah dan tidak sempurna ini, lebih mudah membenci dan mencari kesalahan, daripada mengasihi dan memberikan dirinya sebagai korban demi kasih? Kenapa?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin bagi beberapa orang adalah pertanyaan seorang anak kecil. Akan tetapi, saya tidak bisa menyangkal bahwa pertanyaan-pertanyaan ini sungguh-sungguh menggelisahkan saya. Tuhan memerintahkan saya untuk mengasihi, dan mengasihi seperti Yesus telah mengasihi, tetapi kenapa? Dalam kegelisahan saya, saya menemukan surat Yohanes ini.
7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. (1 Yohanes 4:7-12)
Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita, dan telah mengutus anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Ayat ini berbunyi begitu nyaring di dalam hati saya. Kemudian saya jadi teringat ayat hafalan wajib bagi anak sekolah minggu di zaman saya, Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16)
Saya harus mengasihi, bukan karena semua orang pantas dikasihi oleh saya. Saya harus mengasihi bukan karena semua orang akan menerima dan bersyukur terhadap kasih yang akan saya berikan. Saya harus mengasihi bukan karena saya akan mendapat pujian dan kemuliaan karena kasih yang saya berikan. Saya harus mengasihi semata-mata karena saya sendiri sebenarnya tidak pantas untuk dikasihi, namun telah dikasihi lebih dulu oleh Allah, dengan kasih yang melampaui segala akal manusia untuk memahaminya, kasih yang memberikan anak tunggal Allah untuk mati di kayu salib demi saya. Itulah alasan pertama, dan terutama kenapa saya diperintahkan untuk mengasihi.
Mendapat jawaban ini, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Siapa saya, sehingga saya pantas mempertanyakan perintah agung Tuhan kepada saya? Betapa lancang dan kurang ajarnya saya, mempertanyakan perintah Tuhan ini. Saya, yang tidak pantas dikasihi ini, telah dikasihi sedemikian rupa oleh Tuhan. Apalagi yang bisa saya lakukan, selain menuruti perintah-Nya?
Anda mungkin tidak sedang bergumul seperti saya. Akan tetapi, jika pertanyaan-pertanyaan seperti tadi datang kepada Anda, ingatlah bahwa Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, jauh sebelum kita mengasihi Dia. Allah telah lebih dahulu memberikan Kristus untuk terpaku di kayu salib, jauh sebelum kita bahkan teringat kepada-Nya. Jangan lupakan hal ini juga, oleh karena dosa-dosa kita, kita paling pantas memperoleh hukuman kebinasaan kekal, namun Allah mengasihi kita lebih dulu.
Mari kita hidup dalam kasih. Kasih yang mengasihi tanpa menuntut syarat terlebih dahulu. Kasih yang juga tidak mengharapkan balas dan imbalan dari mereka yang kita kasihi. Kasih yang tidak menunggu untuk mengasihi, tetapi yang aktif mendahului untuk mengasihi. Bukan karena alasan apa-apa, hanya karena kita juga tidak pantas dikasihi, namun telah dikasihi sedemikian rupa oleh Allah yang maha kuasa.
Marilah kita hidup dalam kasih yang seperti ini, supaya dunia melihat Allah yang telah mengasihi dunia dan yang telah datang dan mati di kayu salib bagi dunia. Jangan heran dan terkejut dengan respon yang diberikan, tetapi tetaplah mengasihi. Bahkan ketika yang kita kasihi memalingkan wajahnya dari kita, meludahi bahkan melempari kita dengan batu. Mari tetap hidup dalam kasih. Mengasihi adalah jalan yang ditentukan Allah bagi kita. Tidak ada jalan lain, karena Allah sendiri telah datang kepada kita, hanya melalui jalan itu. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Kamis, 03 September 2009
Refleksi
APAKAH ANDA MALU SEBAGAI ORANG KRISTEN?
1. Di saat anda makan di sebuah rumah makan baik itu rumah makan sederhana ataupun mewah, apakah anda akan tetap menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen? Yaitu berdoa dahulu sebelum makan?
Kadang kita merasa malu untuk berdoa sebelum makan di tempat yang ramai. Dengan alasan macam2.
2. Di saat anda pergi ke Gereja. Yang mengharuskan anda membawa Alkitab. Anda tidak membawanya. Karena malu di di jalan. Buat apa...kan nanti bisa pinjam orang di sebelah saja saat di Gereja.
3. Atribut apa yang anda gunakan? Kalung salib? Baju bertuliskan I Love Jesus? Atau apa saja?
Saya pernah mengenakan baju bertuliskan Jesus care, ketika berjalan di mall. Banyak sekali mata memandang. Tapi saya bangga. Karena semua orang tahu bahwa saya adalah pengikut Yesus. Tidak pernah terlintas perasaan malu di pikiran saya.Entah kenapa, ada seorang Tionghua di belakang yang ketika mengantri di kasir bermuka sinis. Tetapi ketika membayar, saya membalikkan badan, terlihatlah Tulisan Jesus care di baju saya...eeehhhhhh...mukanya berubah. Dia mengajak ngobrol. Tetapi yang luar biasanya lagi, akhirnya dia tersenyum ramah ketika saya meninggalkan kasir.
Apakah anda malu sebagai orang Kristen?
1. Di saat anda makan di sebuah rumah makan baik itu rumah makan sederhana ataupun mewah, apakah anda akan tetap menunjukkan jati diri sebagai orang Kristen? Yaitu berdoa dahulu sebelum makan?
Kadang kita merasa malu untuk berdoa sebelum makan di tempat yang ramai. Dengan alasan macam2.
2. Di saat anda pergi ke Gereja. Yang mengharuskan anda membawa Alkitab. Anda tidak membawanya. Karena malu di di jalan. Buat apa...kan nanti bisa pinjam orang di sebelah saja saat di Gereja.
3. Atribut apa yang anda gunakan? Kalung salib? Baju bertuliskan I Love Jesus? Atau apa saja?
Saya pernah mengenakan baju bertuliskan Jesus care, ketika berjalan di mall. Banyak sekali mata memandang. Tapi saya bangga. Karena semua orang tahu bahwa saya adalah pengikut Yesus. Tidak pernah terlintas perasaan malu di pikiran saya.Entah kenapa, ada seorang Tionghua di belakang yang ketika mengantri di kasir bermuka sinis. Tetapi ketika membayar, saya membalikkan badan, terlihatlah Tulisan Jesus care di baju saya...eeehhhhhh...mukanya berubah. Dia mengajak ngobrol. Tetapi yang luar biasanya lagi, akhirnya dia tersenyum ramah ketika saya meninggalkan kasir.
Apakah anda malu sebagai orang Kristen?
Langganan:
Postingan (Atom)